REPRESENTASI BUDAYA LOKAL DALAM CERPEN SENYUM KARYAMIN KARYA AHMAD TOHARI: KAJIAN SEMIOTIK ROLAND BARTHES

Authors

  • Dicky Rafly Pradana Universitas Tangerang Raya
  • Rizka Adelia Amanda Universitas Tangerang Raya
  • Rifa’atussalwa Hayati Universitas Tangerang Raya
  • Widya Gusvita Universitas Tangerang Raya

DOI:

https://doi.org/10.36709/bastra.v11i3.2523

Keywords:

budaya lokal, semiotik, cerpen, Senyum Karyamin

Abstract

Budaya lokal dalam karya sastra sering direpresentasikan tidak hanya melalui pernyataan eksplisit, tetapi juga melalui tanda, simbol, tindakan tokoh, dan relasi sosial yang dibangun dalam teks. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya membaca kembali cerpen Senyum Karyamin karya Ahmad Tohari sebagai teks sastra yang merekam nilai budaya masyarakat pedesaan di tengah kemiskinan, ketimpangan sosial, dan daya tahan hidup masyarakat desa. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan representasi budaya lokal dalam cerpen Senyum Karyamin melalui kerangka semiotika Roland Barthes. Penelitian ini menggunakan desain kualitatif deskriptif. Sumber data primer adalah teks cerpen Senyum Karyamin, sedangkan data sekunder berupa buku dan artikel jurnal yang relevan dengan semiotika, budaya lokal, dan kajian sastra Indonesia. Data dikumpulkan melalui studi pustaka dan teknik baca-catat, kemudian dianalisis melalui tiga tingkat pemaknaan Barthes, yaitu denotasi, konotasi, dan mitos. Hasil penelitian menunjukkan adanya lima tanda budaya yang dominan, yaitu kerja keras, kesederhanaan, sikap menerima keadaan atau nrimo, religiusitas, solidaritas sosial, serta senyum Karyamin sebagai tanda ironi penderitaan dan keteguhan hidup. Kesimpulan penelitian menunjukkan bahwa cerpen Senyum Karyamin tidak hanya menceritakan kehidupan buruh desa yang miskin, tetapi juga merepresentasikan pandangan hidup masyarakat pedesaan Banyumas yang menjunjung kesabaran, ketekunan, kehidupan kolektif, dan kepasrahan spiritual. Kontribusi penelitian ini terhadap ilmu pengetahuan terletak pada penguatan pembacaan semiotik sebagai cara mengungkap makna budaya lokal serta penempatan cerpen sebagai dokumen kultural yang menyimpan nilai kehidupan masyarakat.

 

References

Adeliza, J., dkk. (2021). Nilai pendidikan karakter dalam kumpulan cerpen Senyum Karyamin karya Ahmad Tohari dan kontribusinya dalam materi pembelajaran sastra di SMA: Kajian semiotik. Diglosia, 5(2).

Barthes, R. (1972). Mythologies. New York: The Noonday Press.

Barthes, R. (1977). Image, Music, Text. London: Fontana Press.

Damayanti, E. (2023). Representasi kearifan lokal Jawa dalam cerpen Gayatri: Tinjauan sosiologi sastra. Diksa: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, 9(2), 116–127. https://doi.org/10.33369/diksa.v9i2.32288

Dewi, A. C. (2024). Komik digital sebagai sarana pelestarian sastra dan budaya lokal. Journal Sultra Elementary School, 5(2), 1123–1132.

Dewi, A. C. (2025). Kearifan lokal dalam sastra Indonesia sebagai media pendidikan karakter. Jurnal Kajian Pendidikan dan Cakrawala Pembelajaran, 1(1), 81–90. https://doi.org/10.64690/jakap.v1i1.8

Fahmi, M., & Mufidah, N. (2024). Pengaruh nilai-nilai budaya terhadap penulisan sastra kontemporer di Indonesia. Jurnal Ilmu Pendidikan, Bahasa dan Sastra, 1(1), 20–27.

Febriyanto, D. (2025). Penguatan pendidikan karakter berbasis kearifan lokal pada pembelajaran Bahasa Indonesia di era Revolusi 5.0. BIDUK: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, 3(1), 17–23. https://doi.org/10.30599/c54vqh65

Hoed, B. H. (2014). Semiotik dan Dinamika Sosial Budaya. Depok: Komunitas Bambu.

Irawan, W. D. (2024). Eksplorasi nilai budaya pada novel Hati Suhita karya Khilma Anis sebagai alternatif bahan ajar di SMA. Jurnal Edukasi Lingua Sastra, 22(2), 81–87. https://doi.org/10.47637/elsa.v22i2.1386

Kartika, L. (2024). Representasi kearifan lokal pada novel Sang Maha Sentana karya Filiananur. Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya.

Kusuma, P. K. N. (2017). Analisis semiotika Roland Barthes pada ritual Otonan di Bali. Jurnal Manajemen Komunikasi, 1(2), 195–217.

Latifah, H. (2020). Analisis semiotik dalam cerpen “Tak Ada yang Gila di Kota Ini”. Jurnal Penelitian Humaniora, 25(2), 51–98.

Luthfi, C., Pratiwi, I., Purwo, A., & Utomo, Y. (2020). Deiksis dalam cerpen “Senyum Karyamin” karya Ahmad Tohari sebagai materi pembelajaran Bahasa Indonesia. Journal Lingua Susastra, 2(1).

Muarifin, M., & Waryanti, E. (2021). Representasi budaya Jawa dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari. Wacana: Jurnal Bahasa, Seni, dan Pengajaran, 5(2), 33–45. https://doi.org/10.29407/jbsp.v5i2.17545

Mustika, M., & Masri, F. A. (2022). Kajian semiotik Roland Barthes dalam cerpen “Bayi yang Dipetik dari Sebatang Pohon” karya Yetti A.KA. Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, 276–291.

Putri, N. P., Mulyono, T., & Anwar, S. (2020). Semiotik Roland Barthes pada cerpen Tunas karya Eko Tunas dan implikasinya dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. Tabasa: Jurnal Bahasa, Sastra Indonesia, dan Pengajarannya, 1(2), 249–268.

Qusayri, M., Sosrohadi, S., & Sukirno. (2024). Kajian semiotika Roland Barthes dalam puisi: Sajak Matahari dan Sajak Burung-Burung Kondor karya W.S. Rendra. INDONESIA: Jurnal Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia, 5(2), 391–399. https://doi.org/10.59562/indonesia.v5i2.59329

Riadi, B. (2025). Unsur konotasi, denotasi dan mitos dalam komik Misteri Gudang Pojok. Aksentuasi: Jurnal Ilmiah Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.

Sekarsari, L. R., & Suryaman, M. (2023). Menelisik sistem kode dalam cerpen Senyum Karyamin karya Ahmad Tohari. SEMIOTIKA: Jurnal Komunikasi, 17(2), 96–102. https://doi.org/10.30813/s:jk.v17i2.3977

Tohari, A. (2013). Senyum Karyamin. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Wattimena, G. H. J. A., & Pranawukir, I. (2024). Membedah mitos budaya massa dalam Pilpres 2024: Tinjauan semiotika Roland Barthes. Jurnal SEMIOTIKA, 18(1), 53–70.

Downloads

Published

2026-05-04

How to Cite

Dicky Rafly Pradana, Rizka Adelia Amanda, Rifa’atussalwa Hayati, & Widya Gusvita. (2026). REPRESENTASI BUDAYA LOKAL DALAM CERPEN SENYUM KARYAMIN KARYA AHMAD TOHARI: KAJIAN SEMIOTIK ROLAND BARTHES. Jurnal Bastra (Bahasa Dan Sastra), 11(3), 1086–1093. https://doi.org/10.36709/bastra.v11i3.2523